where are you, brother....
Aku punya sahabat.lebih tepat disebut brother.yang hingga kini lost contact.Aku tak ingat lagi kapan terakhir kali berjumpa,mendengar suaranya bahkan sebaris sms.yang ku inggat, hari ini aku ingin menemukan jejaknya.bercerita, berbagi semangat, seperti dulu lagi.
Pernah suatu waktu kita dalam perjalanan luar kota bersama. Aku dari rumah bulek di Trenggalek dan dia dari rumah ayahnya di Blitar untuk mengabarkan skripsinya sudah rampung dan segera di wisuda.Sebelumnya kita janjian ketemu di Terminal bis Trenggalek untuk kemudian sama-sama ke Yogyakarta.Tapi waktu dia menelponku, entah mengapa katanya telp rumah tulalit.Dengan perasaan takut aku keberatan, akhirnya dia nyamperin aku di rumah.Bertemu dengan paklek dan bulekku.Karena sebelumnya belum pernah ada satu pun laki-laki datang ke rumahku, muncullah spekulasi di kalangan keluargaku bahwa dia pacarku.Karena kita sudah memperkirakan, ya...menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Dalam bis kita banyak cerita. Tentang idealismenya dan cerita-ceritaku yang selalu dianggapnya lucu, tanpa tedeng aling-aling.Pernah dia bertanta ;
"ai, cita-citamu apa sih..?"
"aku pengen jadi orang kaya..."
"kenapa ?"
"biar anakku kelak tak perlu berdesak-desakan naek bis, kepanasan naik sepedah motor seperti ibunya."
Tanggapannya hanya tertawa.
Hari wisudanya aku datang.Dia lulusan terbaik universitas pada waktu itu.Dengan tubuhnya yang kurus dan kecil, mungkin akibat jadi anak kos, dia pidato mewakili mahasiswa lain depan podium.Aku turut merasa bangga.
Setahun dia berusaha mengisi job vacancy dalam iklan-iklan di media dengan bermap-map surat lamaran.Memang ada beberapa yang kecantol.Tapi idealismenya tidak nyantol.Pikirku dia pasti ingin bekerja di tempat yang sesuai dengan pendidikannya sebagai sarjana ilmu politik Hubungan Internasional.Tapi disaat itulah kita punya banyak waktu luang.Dia sering ke tempat kosku atau hanya menelpon untuk berbagi cerita.Pernah satu kali dia bercerita, dia merasa salah satu sahabat study club kita dan juga sahabat dekatku punya feeling terhadapnya.Yang menjadi masalah, perempuan itu bukan tipenya.Aku hanya tertawa dan menyarankan jika memang perasaan itu tidak berbalas, tak usah diberi harapan.Buktinya tidak ada yang terluka dan kita pun dengan perempuan itu tetap bersahabat.
Tibalah hari bahagia itu. Dia mengumumkan pada kami keberhasilannya menembus kerasnya persaingan masuk DEPARTEMEN LUAR NEGERI.Lamarannya kecantol, idealismenyapun nyantol.Dia satu-satunya yang lolos dari universitas swasta di Yogyakarta.Setelah diam-diam tanpa bercerita padaku mengikuti penyaringan dengan sistem gugur dan menegangkan dan menurut ceritanya diselipi kejadian-kejadian aneh selama beberapa bulan, akhirnya aku dan sahabat yang laen merelakan kepergiannya ke JAKARTA.Pada saat perpisahan dia bilang tak bisa lagi berjuang seperti kami mahasiswa laennya karena statusnya tak lagi dalam posisi netral.Dia juga bilang keberatannya meninggalkan kota Yogyakarta.
Sejak itu.
Sejak itu aku hanya mendengar ceritanya lewat telp atau mendapat kabar dari sahabat-sahabatnya yang masih di Yogya.Dia tau aku wisuda lewat telp.Dia tau aku putus dengan pacarku lewat telp.Dia tau aku punya pacar baru lagi yang notabene satu angkatan kuliah dengannya juga lewat telp.Sampai pada beberapa bulan kita tak pernah saling memberi kabar.
Suatu hari aku iseng menelponnya yang nomornya ku dapat dari sahabatnya (dia sering ganti nomor tanpa pemberitahuan). Dengan surprise, heboh dan rasa tak percaya, dia cerita akan menikah dalam waktu dekat.Tentu saja aku surprise.Wong sebelumnya aku tak pernah mendengar dia punya pacar.Dan sepertinya pernikahannya cepat, kilat,dan sederhana.Karena diadakan di Jakarta mengingat keluarganya ada di jawa timur dan kalau tidak salah calon istrinya pun dari luar Jakarta.Mungkin karena kesibukannya pada waktu itu seminggu penuh sebelum hari 'H' dia masih tugas di Kuala Lumpur dalam acara KTT ASEAN dan calon istrinya yang karyawan BPK.Sulit untuk mencari cuti pekerjaan.
Terakhir ku dengar, dia sudah menjadi seorang ayah dari jasamine (maaf kalo penulisannya salah). Seringnya mengganti nomor seluler dan pindah alamat tanpa pemberitahuan membuatku kehilangan jejak.
HARTYO HARKOMOYO S.IP,
Apa kabarmu saat ini ? Atau kau sudah di Rusia sesuai dengan impianmu bertugas disana ?
